niet zomaar iemand

2008 March 4
by chibi

(BUKAN SIAPA-SIAPA)

“Aku tahu, dia Ali! Dia Ali!”

“Tahu darimana kamu?”

“Lihat! Pedangnya bermata dua! Dia Ali, dia Ali”

“…”

.

Dalam frame yg sama-sama kita lihat itu

Tampak sebuah pedang dengan mata pedang ganda

Wajah si pemilik tak tampak sama sekali

.

Aku kalah dari seorang bocah berusia lima tahun

“Dia Ali!”

“Dia Ali!”

.

Begitu membekas dalam ingatanku

Aku yang selalu bangga dengan pengetahuanku yang luas

Kalah oleh bocah berusia lima tahun

.

Selama film itu, dia yang lebih banyak bercerita kepadaku

Menunjuk-nunjuk dan memberitahu setiap karakter yang muncul, sahabat-sahabat Nabi, panglima-panglima perang, musuh-musuh beliau

Ia bahkan tahu alur ceritanya

Seperti dialah sang sutradara film itu

.

Padahal ia sama sekali belum pernah melihat film itu

Film berbahasa asing yang sama sekali tidak dikuasainya

Kecuali setting budaya dan lingkaran cahaya bertuliskan “Muhammad” dalam aksara Arab, yang menjadi kunci baginya

.

Aku tidak bisa tidak memperhatikan bocah itu

Aku tidak menonton film itu

Tapi mendengarkannya bercerita, khas bocah

.

Seharian itu kuikuti dia bermain

Kuperhatikan dia

.

Menjelang pukul 12, tiba-tiba dia berdiri, menghentikan permainannya

Ia berlari ke kamar mandi

Ia berwudhu

Memang sudah masuk waktu dzuhur? Pikirku

.

Benar, ia menuju musholla

Berdiri, bersedekap

“Memang sudah masuk dzuhur?” tanyaku

“Sst, dengar, itu suara adzan. Allah sudah memanggil kita, Ka. Berdiri!”

Spontan aku berdiri mengikutinya, bersedekap

Akhirnya kudengar juga sayup-sayup suara adzan

Ya Tuhan! Kenapa aku baru bisa mendengarnya, sedangkan bocah ini sudah lebih dulu mendengarnya daripada aku? Apa aku sudah tuli?

.

“Kalau adzan, berdiri, Ka, di panggil sama Allah lho! Kalau sudah selesai kita jawab panggilanNya ya”

Lalu ia menuntunku menjawab panggilanNya

Aku kalah lagi, oleh bocah berusia

lima
tahun

.

“Nah, sekarang sudah masuk dzuhur, aku hampir lupa tadi. Sekarang aku mau nyusul abi ke masjid, mudah-mudahan masih sempat, Kaka mau ikut?”

.

Menjelang maghrib, ia sudah berdiri lagi di musholla, kali ini ia mengumandangkan adzan

Merdu sekali

Fasih sekali

Hatiku bergetar

.

Aku ikut sholat berjamaah, dibelakangnya

Rukuknya, sujudnya, tahiyatnya

Semua tuma ni’nah

Lebih sempurna dari gerakanku

Aku kalah dari bocah berusia lima tahun

.

Ketika kulipat mukenaku

Tangan kecil itu menyentuh tanganku

“Gak ngaji kak?”

“…”

“Sesibuk-sibuknya, secape-capenya, paling gak ngaji satu ayat aja Ka”

Ia berlalu mengambil Al-Qur’an dan mulai membaca

Bacaannya terdengar bagus sekali

Lancar sekali

Benarkah usaianya baru lima tahun?

Aku kalah

.

Di kamar, ku raih Al-Qur’an yg aku pun lupa kapan kali terakhir aku membacanya

“Bacanya salah, itu Qo kan, bukan Ka” tiba-tiba saja bocah itu telah ada di sampingku “Kalo bacanya salah, nanti artinya juga salah”

Lalu ia mengajariku bagaimana membaca Al-Qur’an dengan lafal dan aturan yang benar

Aku kalah telak

.

Nah, itu udah Isya, Kaka belum batal kan? Langsung aja”

Lalu ia pergi

Lalu aku menangis…

4 Responses leave one →
  1. 2008 March 9

    ikutan sedih, boleh kan? …. =(

  2. 2008 March 10

    IIkkkksssss…..kan sedih jadinya

  3. 2008 June 24
    wisnu permalink

    MAY I KNOW WHO U R

  4. 2008 June 25
    zelda chibi permalink

    hehe tulisan ini tidak dikamsudkan untuk membuat sediih hehe, ya Danu, ya Mad..hehe

    @ Wisnu, yes you may know me :)
    itu ada link “aantekening” di sebelah kanan, kamu klik aja, nanti ngelink ke blog aku di Friendster, kamu klik fotoku, naah kamu bisa tau lebih tentang aku deh dari situ..salam kenaal ^^

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS