niet zomaar iemand
(BUKAN SIAPA-SIAPA)
“Aku tahu, dia Ali! Dia Ali!”
“Tahu darimana kamu?”
“Lihat! Pedangnya bermata dua! Dia Ali, dia Ali”
“…”
.
Dalam frame yg sama-sama kita lihat itu
Tampak sebuah pedang dengan mata pedang ganda
Wajah si pemilik tak tampak sama sekali
.
Aku kalah dari seorang bocah berusia lima tahun
“Dia Ali!”
“Dia Ali!”
.
Begitu membekas dalam ingatanku
Aku yang selalu bangga dengan pengetahuanku yang luas
Kalah oleh bocah berusia lima tahun
.
Selama film itu, dia yang lebih banyak bercerita kepadaku
Menunjuk-nunjuk dan memberitahu setiap karakter yang muncul, sahabat-sahabat Nabi, panglima-panglima perang, musuh-musuh beliau
Ia bahkan tahu alur ceritanya
Seperti dialah sang sutradara film itu
.
Padahal ia sama sekali belum pernah melihat film itu
Film berbahasa asing yang sama sekali tidak dikuasainya
Kecuali setting budaya dan lingkaran cahaya bertuliskan “Muhammad” dalam aksara Arab, yang menjadi kunci baginya
.
Aku tidak bisa tidak memperhatikan bocah itu
Aku tidak menonton film itu
Tapi mendengarkannya bercerita, khas bocah
.
Seharian itu kuikuti dia bermain
Kuperhatikan dia
.
Menjelang pukul 12, tiba-tiba dia berdiri, menghentikan permainannya
Ia berlari ke kamar mandi
Ia berwudhu
Memang sudah masuk waktu dzuhur? Pikirku
.
Benar, ia menuju musholla
Berdiri, bersedekap
“Memang sudah masuk dzuhur?” tanyaku
“Sst, dengar, itu suara adzan. Allah sudah memanggil kita, Ka. Berdiri!”
Spontan aku berdiri mengikutinya, bersedekap
Akhirnya kudengar juga sayup-sayup suara adzan
Ya Tuhan! Kenapa aku baru bisa mendengarnya, sedangkan bocah ini sudah lebih dulu mendengarnya daripada aku? Apa aku sudah tuli?
.
“Kalau adzan, berdiri, Ka, di panggil sama Allah lho! Kalau sudah selesai kita jawab panggilanNya ya”
Lalu ia menuntunku menjawab panggilanNya
Aku kalah lagi, oleh bocah berusia
lima
tahun
.
“Nah, sekarang sudah masuk dzuhur, aku hampir lupa tadi. Sekarang aku mau nyusul abi ke masjid, mudah-mudahan masih sempat, Kaka mau ikut?”
.
Menjelang maghrib, ia sudah berdiri lagi di musholla, kali ini ia mengumandangkan adzan
Merdu sekali
Fasih sekali
Hatiku bergetar
.
Aku ikut sholat berjamaah, dibelakangnya
Rukuknya, sujudnya, tahiyatnya
Semua tuma ni’nah
Lebih sempurna dari gerakanku
Aku kalah dari bocah berusia lima tahun
.
Ketika kulipat mukenaku
Tangan kecil itu menyentuh tanganku
“Gak ngaji kak?”
“…”
“Sesibuk-sibuknya, secape-capenya, paling gak ngaji satu ayat aja Ka”
Ia berlalu mengambil Al-Qur’an dan mulai membaca
Bacaannya terdengar bagus sekali
Lancar sekali
Benarkah usaianya baru lima tahun?
Aku kalah
.
Di kamar, ku raih Al-Qur’an yg aku pun lupa kapan kali terakhir aku membacanya
“Bacanya salah, itu Qo kan, bukan Ka” tiba-tiba saja bocah itu telah ada di sampingku “Kalo bacanya salah, nanti artinya juga salah”
Lalu ia mengajariku bagaimana membaca Al-Qur’an dengan lafal dan aturan yang benar
Aku kalah telak
.
Nah, itu udah Isya, Kaka belum batal kan? Langsung aja”
Lalu ia pergi
Lalu aku menangis…
ikutan sedih, boleh kan? …. =(
IIkkkksssss…..kan sedih jadinya
MAY I KNOW WHO U R
hehe tulisan ini tidak dikamsudkan untuk membuat sediih hehe, ya Danu, ya Mad..hehe
@ Wisnu, yes you may know me
itu ada link “aantekening” di sebelah kanan, kamu klik aja, nanti ngelink ke blog aku di Friendster, kamu klik fotoku, naah kamu bisa tau lebih tentang aku deh dari situ..salam kenaal ^^