Kubuka pagi dengan doa, dalam himpitan kantuk dengan gerakan yang nyaris otomatis, namun tetap saja itu doa. Doa yang berisi impian bukan keinginan, karena bagiku lebih baik memulai hari dengan bermimpi ketimbang berkeinginan. Mimpi itu terasa ringan, terasa membebaskan. Letaknya hampir di luar diri, tampak jauh tidak terjangkau namun kesan yang ditimbulkannya sangat menyenangkan. Kau juga bisa bermimpi tentang apapun, bahkan sesuatu yang kelihatannya mustahil diwujudkan! Ya, karena dalam impian tidak ada hukum, tidak ada batasan, dan yang terbaik hanya ada dirimu sendiri. Sebaliknya keinginan adalah beban, terasa berat dan seringnnya menyesakkan. Ia adalah sesuatu yang sepanjang waktu terasa bergelayut di pundakmu, membuat kepalamu penuh dengan rencana-rencana yang saling sengkarut. Dan ketika kau menyadari kau tidak punya banyak waktu hari ini, keinginan membuatmu penat dan akhirnya membuat awal harimu menjadi jelek, dan selanjutnya sepanjang hari menjadi sebuah mimpi buruk. Sebab itu selalu kumulai hariku dengan bermimpi. Dan mimpi yang menyisip dalam alunan doa akan memiliki daya gedor yang berlipat-lipat. Aku bahkan tidak menyadari, perlahan tapi pasti, impian itu telah mewujud dengan sendirinya dalam hari-hariku.

Matahari menyambutku dengan sulur keemasannya yang lembut, membiaskan semua menjadi kemilau yang hangat. Pagi ini ia bertukar peran dengan hujan yang seharian kemarin membasahi setiap jengkal kota dengan rinainya. Tidak, aku tidak kembali menutup mata, kebiasaan itu hanya membuat hariku terasa pendek, terasa diburu-buru. Setelah menelan segelas air putih dingin sisa semalam, aku merapikan jemuran-jemuran di kamarku, jemuran yang kuselamatkan dari tamparan angin hujan kemarin. Pagi ini terasa sangat sempurna bagi jalinan benang-benang kapas itu untuk mengeringkan diri dalam buaian hangat sinar matahari.

Sembari mengatur pakaian setengah kering di tempat menjemur, aku menjerang air di dapur. Pagi ini akan kugenapi dengan secangkir susu kopi krim panas. Tidak ada rasa yang paling melenakan selain ketika menghirup aroma kopi di pagi hari yang cerah dan menyadari bahwa kehidupan telah memberikan segalanya untukmu, hingga yang tersisa hanyalah rasa syukur yang dalam. Aku tidak perlu menjadi seorang yang kaya raya, sosok ternama, atau hidup dalam keluarga yang sempurna untuk menikmati keajaiban secangkir kopi di pagi yang indah. Aku hanya perlu bangun lebih pagi, menolak ajakan manja tempat tidurku, lalu menggantinya dengan sapaan kepada burung-burung, bercengkrama dengan tetumbuhan yang baru selesai mandi embun, dengan ditemani secangkir kopi favoritku.

Aku menengok meja kerjaku, setangkup laptop berdampingan dengan tikusnya selaksa di pelaminan, mereka diapit dua frame foto kesayanganku. Yang kiri mencitrakan wajah ibu dan adik laki-lakiku, merekalah para MVP-ku, Most Valuable Person. Aku baru sadar, frame itu tidak pernah membiaskan senyum ayah. Ah! Bahkan aku tidak ingat apakah pada suatu waktu aku pernah memuat gambarnya disana. Namun begitu, aku senantiasa menyebut namanya dalam doa, mengirimkan Al Fatihan dan doa ibu-bapak pada setiap pagi dan petang. Berharap pancaran doaku dapat melindungi jasadnya dari amukan siang yang garang dan menerangi malam-malamnya yang mencekam. Tenanglah dalam damaiNya, Pa. Aku membetik bening di sudut mataku, mengerjap sekali lalu ia menguap cepat seperti juga rindu-rinduku untuk Papa.

Sementara di sebelah kanan, adalah frame kosong. Setahun yang lalu aku meremas-remas wajah tersenyum di dalamnya lalu menghempaskan ke tong sampah, Itulah hal terakhir yang kulakukan sebagai penanada berakhirnya sebuah hubungan. Frame itu terlalu sering berganti tampilan, wajah-wajah baru hilir mudik mengisinya seakan ia adalah piala bergilir. Aku tersenyum geli menyadari bahwa sudah setahun frame itu kosong. Kesadaan itu diikuti dengan kepercayaan diri yang nyaris tak pernah kusadari, bahwa ternyata aku bisa hidup sendiri! Hatiku masih dan akan selalu mampu bertahan tanpa tumpuan hati yang lain. Tetumpuan yang tidak hanya satu, minimal dua. Itulah sebabnya frame itu terdiri dari beberapa juring dengan satu bagian terbesar di tengah-tengahnya. Wajah di tengah adalah tumpuan hatiku yang paling utama, dan yang mengelilinginya adalah tonggak-tonggak hati yang lain. Aku tidak bermain-main dengan cinta siapapun, tidak juga dengan milikku. Aku hanya merasa tidak percaya diri, kekurangan rasa aman dan tak ingin gagal dalam cinta, hingga aku selalu membutuhkan cadangan, rencana cadangan, perhatian cadangan, kekasih cadangan. Tapi semua itu sudah berlalu, pagi ini aku telah membuktikan pada hatiku bahwa semua itu hanya ilusi dan frame kanan yang kosong itu seakan menjadi penanda, sebenarnya aku belum pernah benar-benar jatuh cinta.

Menyaksikan meja kerjaku mengingatkanku akan tenggat yang hampir tiba. Beberapa tulisan harus segera dibuat dan dikirim jika aku masih ingin mempertahankan pekerjaanku. Kemarin malam lampu padam membuyarkan semua jalinan kata yang sudah tersusun rapi di kepalaku. Hendak mengetik tulisan dengan apa dalam kegelapan tanpa daya listrik? Kulirik ponselku, canggih dengan keypad qwerty yang memudahkanku menulis, dilengkapi dengan jaringan internet yang selalu terkoneksi yang memudahkanku mengirim hasil kerja. Namun apa guna gadget itu jika baterai yang tersisa hanya satu bar. Dalam gulita ia akan lebih berguna sebagai senter. Namun dalam sunyi dan gelap itu, kepalaku membangun paragraf demi paragraf, lintasan-lintasan ide makin nyalang ditingkahi kesunyian dan kegelapan. Sambil membayangkan aku hidup di jaman Plato, aku bisa memahami mengapa pemikiran-pemikiran manusia di zaman itu begitu cemerlang, seperti lilin yang menerangi kegelapan ini. Namun bukanlah gelap dan sunyi yang membuat benak menjadi cemerlang, mengalir bagai air bah yang tidak dapat tertahankan, fokus pada arah lajunya.

Malam itu, aku nyaris tidak dapat melakukan apa-apa, karena mati lampu seluruh wilayah membuat keadaan di luar menjadi gulita, maka aku berdiam saja di dalam kamar. Sebaliknya di dalam kamar tidak ada teman bicara, hendak membaca buku pun terasa percuma, malah bisa buat sakit mata. Tapi itulah saat paling intim dengan diriku sendiri, menyelami pikiranku. Dengan hasrat tak tertahankan aku menarik satu buku catatan dari rak, hadiah sebuah seminar berikut pulpen ramping nan cantik yang sudah kulupakan.

Goresan kata pada kertas terasa menyakitkan, telapak tangan kananku rupanya telah lupa bagaimana cara menulis menggunakan tangan. Ia hanya ingat bagaimana cara membubuhkan tanda tangan di lembar kontrak. Perlahan aku mengingat rasa itu, ketika pertama kalinya aku menuliskan mantra-mantra ajaib. Hanya dengan menuturkan kisah sembarang aku mampu merasakan bahagia. Bahagia adalah sebentuk perasaan yang begitu mahal buatku, karena sangat jarangnya kurasakan rasa itu. Lucu, padahal ia hanyalah sebuah rasa, tapi menjadi rumit ketika untuk memunculkannya aku membutuhkan alasan, harus mengorbankan sesuatu. Tak jarang aku harus membayarnya dengan mata yang memerah menahan kantuk, jemari yang nyeri, punggung yang bergetar, dan air mata yang berlinang-linang. Namun bukankah jika semua itu tidak terjadi, maka aku tak mungkin bisa mengenali rasa itu sebagai sebentuk rasa yang sebut dengan ‘kebahagiaan’?

Kembali ke pekerjaanku. Aku menyukainya, sangat! Inilah salah satu impianku yang mewujud dengan sendirinya. Apakah menjadi penulis itu sulit? Apakah menulis itu bakat atau keahlian yang bisa dipelajari? Bagaimana caranya agar dapat menulis dengan baik? Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan lain bernada serupa. Pertanyaan yang selalu kuanggap sebagai pertanyaan konyol, jika tidak boleh disebut pertanyaan bodoh. Mungkin aku akan dicaci karena pernyataanku barusan. Aku tidak peduli, karena yang kulakukan hanyalah membeberkan kebenaran. Satu hal yang perlu diketahui: Jika memang dirimu sudah ditakdirkan maka kau tidak perlu ngoyo, ngotot hingga memaksakan diri sampai batas maksimalmu. Jalani saja, dan jalan itu akan terbuka dengan sendirinya. Takdir? Ya, begitulah para ahli agama menyebutnya. Namun selanjutnya, adalah keputusanmu, apakah kau ingin berlari kencang di jalan yang telah terbuka itu atau berjalan santai, bahkan merangkak.

Apa yang sedang coba kukatakan adalah, jika kau menemukan dirimu mulai menulis dan terus ingin menulis maka ikutilah dorongan itu. Dimanapun, kapanpun, dengan cara apapun. Menulislah! Tidak peduli tulisanmu adalah komentar aneh atau nyeleneh, sebuah fragmen komedi atau tragedi, cerpen kacangan, puisi usang atau novel picisan. Apapun yang melintas dalam benakmu diikuti dengan hasrat untuk mengabadikannya dalam jalinan kata, maka lakukan saja! Tulislah dan Selesai! Kau tidak perlu keahlian untuk itu. Itulah hal pertama yang harus diingat: Selalu ikuti kata hatimu, dan semua akan menjadi mudah. Apa bisa semudah itu? Ya tentu saja, sangat amat mudah, dengan catatan: jika menulis memang telah digariskanNya untukmu. Namun jika tidak, kau akan menemui dirimu berada dalam perasaan yang gamang, terombang-ambing dan melayang-layang dalam huruf-huruf yang menertawakanmu dengan congkak. Dengan sendirinya kau akan mulai membenci tulisanmu sendiri meski banyak orang yang memujinya. Jika begitu lambat-laun kau akan membenci dirimu sendiri dan pada akhirnya kau akan menemukan dirimu terperangkap dalam rutinitas yang menjemukan hingga rasa-rasanya tidak ada yang lebih baik ketimbang mati lalu masuk surga, itu pun jika bisa. Lantas apakah itu yang kau inginkan untuk hidupmu?

Aku sendiri selalu membiarkan jemariku menari-nari sendiri diatas keyboard. Menciptakan sendiri kata demi kata, merangkai kalimat demi kalimat hingga di akhir cerita aku tak lagi mengenali tulisanku sendiri. Hal itu tentunya sangat memudahkanku dalam melakukan self editing. Pertanyaan selanjutnya, darimana kudapatkan ide-ide itu? Apakah sulit? Tidak sama sekali tidak sulit. Seperti yang telah kukatakan, menulis sajalah! Bahkan seringkali aku melakukannya tanpa berpikir. Proses editing adalah proses lanjutan yang tidak perlu dipikirkan ketika kau mulai menulis, lagipula masih ada kepala lain yang sudah sangat terlatih dan akan menyempurnakan pekerjaanmu.

Aku akan meberitahumu sebuah rahasia kecilku: aku mendapatkan semua ide-ide itu dengan cara membiarkan diriku bekerja, membuatnya fokus. Dan seperti sihir tulisan itu menjelma dengan sendirinya. Kau tahu, ide-ide terbaik bertebaran di sekitarmu, hanya saja kau terlalu buta atau terlalu silau untuk bisa melihatnya. Matamu telah terbentuk sedemikian rupa dengan hanya memiliki kemampuan membiaskan yang menyedihkan. Hal itu kian diperparah dengan kesenangan untuk mengontrol segala sesuatunya, termasuk mengontrol diri sendiri. Kontrol yang tanpa kau sadari telah memenjarakanmu, memberangus imajinasimu, lalu terkenallah sebutan writer’s block. Apa itu? Seorang penulis sejati tidak mengenal kata itu, namun penulis terpaksa yang mengenalnya. Maka menulislah dengan bebas. Ingat, ide-ide itu bertebaran di sekelilingmu, nyaris menyentuh kulitmu. Kau hanya perlu membiarkannya merasuki dirimu, mengambil alih sepenuhnya sehingga kau akan merasa benar-benar kehilangan dirimu sendiri. Masuk ke alam imajinasi dan mimpi, dan ketika kau membuka matamu dengan sadar yang penuh, sebuah karya terbaik telah tersaji di hadapanmu. Tidak hanya satu atau dua kali, namun setiap kali. Itulah sebabnya seorang penulis dapat menghasilkan karya-karya fenomenal bahkan monumental berkali-kali. Seorang penulis sejati tidak hanya akan membuahkan karya terbaik, paling baik, karena SEMUA karyanya adalah yang terbaik.

Hidup adalah Perjuangan, betapa seringnya aku mendengar kalimat itu dilontarkan kepada para penulis muda yang karyanya berkali-kali ditolak. Menurutku, kalimat itu adalah sebuah dogma yang lahir akibat tekanan perang di masa lampau yang sudah tidak relevan dengan saat ini. Jika setiap orang senantiasa berjuang dalam hidupnya, maka setiap orang akan mencapai keinginannya lalu bahagia. Namun kenyataannya tidak begitu bukan? Sebab itu aku lebih suka menyebut hidup adalah perjalanan, maka jalani saja lalu perhatikan apakah kau telah mengambil jalan yang keliru atau sudah berada di jalur yang benar. Bagaimana caranya? Kenali dirimu sendiri! Tanda-tanda yang berasal dari kedalaman jiwamu akan menunjukkan jalan sejatimu. Sayangnya, kita semua sudah terbiasa mengabaikan diri sendiri dan akibatnya adalah gelombang penyakit jiwa yang mengerumuti kemanusian itu sendiri. Hidup dalam pola-pola ‘pada umumnya’ dan merasa bahwa itulah pencapaian yang sempurna, normal seperti kebanyakan orang. Kalau hidup seperti begitu saja telah mampu membuatmu puas? Ah! Betapa dangkalnya dirimu memandang kehidupan.

Aku selalu mempertanyakan apa yang disebut dengan ‘normal’? Dalam kacamataku ‘normal’ adalah sebuah keadaan nisbi yang tidak pernah terjadi, kecuali secara fisik. Jumlah jari-jari tanganmu sepuluh, hal itu ‘normal’, jika jumlahnya sembilan atau sebelas, itu ‘tidak normal’. Hal-hal seperti itu bisa diterima, namun tidak untuk hal-hal lainnya yang tak kasat mata. Normal adalah rekayasa statistika, sebuah pembenaran yang sejujurnya tidak akan pernah kita ketahui kebenarannya. Masing-masing diri memiliki keunikan yang ‘tidak normal’, setiap diri memiliki kegilaannya sendiri, setiap jiwa mendekap erat penyakitnya sendiri. Kita berbeda dengan segalanya sekaligus menghimpun semua didalamnya. Kita semua adalah pencilan yang dalam satu waktu berada dalam kondisi seimbang. Kondisi seimbang itu yang kusebut dengan normal. Pertanyaannya seberapa lama keseimbangan itu bisa bertahan? Tidak pernah lama untuk bisa dikatakan selamanya, untuk dapat dikategorikan kedalam istilah ‘normal’. Artinya setiap saat manusia berada dalam ketidakseimbangannya? Bukan, aku tidak mengatakan seperti itu, melainkan manusia setiap saat bergerak, setiap saat berubah, setiap saat mencapai keunikannya masing-masing. Ia seimbang didalam dirinya sendiri, menurut takarannya yang tidak bisa dibandingkan dengan mahluk lain. Usaha-usaha lain diluar itu hanyalah sebuah alat, propaganda untuk membuat segala sesuatu terlihat sederhana dan dapat dipahami, padahal hal itu justru mengkebiri kesejatian manusia yang unik.

Kaliurang, 30 Maret 2011