Posted in October 11, 2007

Tuhan mungkin punya rencana mengapa Dia mempertemukan kita
Yang aku tahu, Ia mengajarkanku menangis
Ia mengajarkanku untuk mencintai
Ia mengajarkanku untuk berbagi
Ia mengajarkanku untuk berhenti menjadi egois
Ia mengajarkanku untuk berkorban
Ia mengajarkanku untuk merelakan
Ia mengajarkanku untuk ikhlas
Ia mengajarkanku untuk tegar
Ia mengajarkanku untuk kuat

Ia menyempurnakan aku sebagai manusia utuh
Mengenalkanku bahwa dunia ciptaanNya ini sangatlah luas
Tidak hanya beton-beton angkuh dan sombong
Tapi juga rimbunan rindang pepohonan
Sejuknya embun di permukaan daun
Bukan hanya keramik, marmer yang kupijak
Tapi ada tanah becek, dan bulir lembutnya pasir
Bukan hanya hembusan AC dan lembutnya karpet Persia
Tapi buaian angin sepoi dan nyamannya rerumputan
Bukan juga aroma AmbiPur atau Pot Poury
Tapi aroma udara setelah hujan turun yang menenangkan
Tidak hanya steak, pizza, cheese cake atau pastry
Tapi ada soto paru, martabak, bika ambon, dan combro
Bukan juga cuma nyantai duduk di mobil dan tertidur diperjalanan
Tapi kebingungan pilih bis yang mana buat pulang dan jagain dompet biar gak pindah tangan

Selama dengan kamu
Aku juga jadi mikir
Mikir banyak banget
Mungkin kalau apa yang selama ini aku pikirin digabung jadi satu,
Gak bisa ngalahin banyaknya hal yang aku pikirin setelah ketemu kamu

Meskipun kamu enggak punya andil secara langsung
Tapi kamu sanggup bikin aku mikir banyak hal
Merenungi banyak hal dalam hidup ini

Hidup bukan melulu diisi kerja, kerja dan kerja keras
Berusaha sampai batas akhir kemampuan, mencapai paripurna kalau bisa
Bukan juga dengan kompetisi tanpa henti
Saling sikut, penuh intrik dan saling menyakiti
Lama-lama, yang ada memang bisa jadi kaya,
Tapi uang habis-habis juga buat ke dokter, sensei, refleksi, terapi, segala macem

Hidup juga bukan punya banyak kenalan disana sini,
Cuma buat diajak fitness bareng, ngafe, nonton, dugem, pulang malem
Cuma buat nemenin makan sambil curhat soal pasangan yang seolah gak pernah ada habisnya
Atau pergi ke salon, meni-pedi, sambil ngerumpiin selebritis, negara atau politisi
Atau juga ketawa-ketawa, main kartu dan cela-celaan di kantin sampe cape sendiri
Bukan sekedar itu saja..
Ngomongnya sih mo ngelepas kangen, karena udah lama gak ketemu
Tapi isi omongannya gak jauh-jauh dari soal kapan nikah dan soal kerjaan di kantor,
Itu juga sambil main kartu, ngemil, atau sesekali mabok
Yang agak positif dikit, ya, lumayan, bisa bantu cari kerjaan, atau bantu modal buat usaha
But that’s all!!

Tapi sebenernya kamu ‘berteman’ sama siapa?
Sama fasilitas yang dia punya
Sama tampangnya, sama uangnya, sama jabatannya, sama koneksinya, sama mobilnya, sama rumahnya, ……

Temen sejati buat aku
Adalah orang yang bisa bikin aku ketawa jujur, disaat mood-ku lagi sangat amat jelek banget
Meredakan amarahku bukan malah tambah pingin nabok dia
Seseorang yang bisa memberikan seyuman tulus, pelukan yang hangat dan kata-kata bijak tentang hidup
Mengingatkanku tentang hal-hal kecil yang bermakna tetang hidup dan kehidupan

Seseorang yang aku hubungi cuma untuk bilang,
“I love You”

Gak peduli dia gak punya uang, gak punya mobil, atau baju yang bagus
Cuma modal sandal jepit, sama jins belel
Tapi dia bisa nemenin aku berjam-jam di Bende sambil makan es krim doang
Ngeliatin laut, malem-malem, ditamparin angin, sampe jam 3 pagi
Pulang-pulang udah pasti masuk angin, pilek, influenza
Tapi selama itu kita gak ngomong apa-apa
Cuma diem-dieman, duduk berdampingan
Sesekali ketawa-ketawa sendiri, gak jelas apa yang diketawain
Hidup, mungkin

Tapi dia gak pernah ninggalin aku sendirian
Setiap abis ketemu dia
Sampe rumah perasaan aku jadi nyamaaaaannn banget
Semua persoalan seolah nguap begitu aja
Dan besoknya, aku bisa kembali mikir dengan benar

Temen sejati buat aku adalah dia yang biar uang dikantongnya tinggal tiga ribu perak buat ongkos pulang
Tapi tetep ngebelanjain semua uangnya itu buat beli nasi bungkus terus dikasih ke pengemis
Abis itu dia pulang jalan kaki, kalo lagi beruntung dapet tumpangan

Dia tahu kapan aku lagi butuh, tanpa harus aku kasih tahu
Dia gak banyak kata-kata atau nasihat-nasihat basi
Cukup ada disampingku
Cukup dengan tersenyum dan satu pelukan hangat
Dan itu segala-segalanya

Dia gak berusaha mengubah apapun dariku
Melainkan membiarkanku menjadi apapun yang aku mau
Karena dalam hatinya dia tahu benar, siapa sejatinya aku

Dia percaya dengan semua yang kulakukan
Dia tahu aku akan belajar dari semua konsekuensinya
Dia selalu berada di barisan terdepan untuk mendukungku
Tapi saat aku mulai melenceng ke arah yang gak bener
Dia menjadi orang pertama yang nampar aku

Kawan, kamu sangat berharga buatku
Seseorang yang mengajarkan banyak sekali hal kecil yang tampaknya sepele, tapi ternyata sangat penting buat ngejalanin hidup
Sangat penting buat hidup aku yang selama ini ‘sempit dan pengap’

Tapi sayangnya, hidup bukan untuk kamu miliki lebih lama …

Saat ini aku mikir
Kenapa Tuhan memanggilmu begitu cepat
Padahal selama hidup aku ini
Dari sekian banyak orang yang aku kenal
Kamu adalah satu-satunya orang yang paling mencintai hidup
Dan dicintai kehidupan

Mungkin inilah alasan mengapa kamu jadi sosok seperti ini:
Berada di dekatmu saja
Seseorang akan menjadi positif
Lebih rendah hati
Lebih peduli
Dan lebih menghargai dan mencintai hidup
Seperti apa adanya dirimu

Apa semua itu karena
Kamu tahu bahwa kamu akan mati?

Karena saat mengingat bahwa kamu akan mati
Kamu juga ingat bahwa hidup ini singkat
Kamu ingat bahwa maut bisa datang kapan saja
Kamu juga ingat bahwa ada yang menunggumu di balik batu nisan itu

Kawan, aku baru sadar bahwa selama ini
Kamu tidak menjalani hidup
Tapi kamu meniti kematian yang makin dekat
Kamu hidup untuk mati
Kamu isi hidupmu yang sangat singkat dengan bekal untuk menghadapNya
Dan kematianmu adalah awal keabadianmu
Kehidupanmu yang hakiki

Tuhan itu Sungguh Luar Biasa
Melalui kamu, Ia mengajarkan aku banyak hal
Membukakan mata jiwa dan jendela hati

Satu hal yang paling aku ingat
Dengan suara lirih di pembaringan, sambil tersenyum
Kamu bilang :
“Hidup bukan hanya soal kemapanan dan kesenangan
Tapi kedamaian dan kebahagiaan jiwa
Hidup bukan untuk diri sendiri, apalagi menjadi egois
Hidup itu untuk bersyukur dan berderma
Hidup itu memberi
Bagaimanapun keadaan kita
Hidup itu untuk mati
Jadi sekarang tanya pada diri sendiri,
“Apa aku udah punya cukup tabungan untuk mati?”

Terima kasih banyak, Kawan
Aku merasa amat sangat beruntung pernah bertemu dan bisa berteman denganmu

Bukan kematianmu yang aku sayangkan
Tapi mengapa sampai saat ini
Aku gak pernah lagi bertemu dengan sosok-sosok seperti kamu
Padahal orang-orang seperti kamu
Layaknya obor penerangan
Pembawa cinta dan kedamaian

Mungkin untuk menjadi sosok seperti kamu
Aku dan teman-teman lainnya hanya perlu melakukan satu hal

- Mengingat Kematian –

… dan semoga semakin banyak lagi sosok-sosok seperti kamu …

Selamat jalan, Sahabat Jiwa_ku

 

 

 

For He, who was dan will always be my MVP