pembebasan
Seharusnya malam ini kurampungan sebuah tulisan tentang September, sebarang paragraf atau sekedar outline. Ide mulanya aku akan menulis tentang relasi antar manusia. Mungkin tentang cinta romantis yang manis atau romansa getir yang anyir. Sebuah ide sudah hinggap dalam kepalaku, dan proses berikutnya adalah melakukan riset kecil. Riset yang awalnya kutujukan untuk memperkuat setting lokasi ceritaku.
Alih-alih melakukan browsing seperti yang biasa kulakukan, kali ini aku meminta info dari seorang penulis kawakan yang tinggal di Belanda. Ya, aku akan membuat cerita bersetting negeri tulip itu. Dan ketimbang hanya memperoleh informasi superfisial dari mbah google, kali ini aku ingin melihat negeri itu dari kacamata seorang pribumi yang separuh hidupnya dijalani di Belanda. Heri latief, ia seorang penyair, sastrawan sastra pembebasan. Sejak mengenalnya di dunia maya, aku dapat melihat idealismenya, caranya memandang kehidupan yang ditempa oleh sejarah dan pemikiran khas Eropa yang membebaskan. Matanya memang seperti elang, membiaskan gairah jiwanya yang muda selamanya, memancarkan buah pikirnya yang menyala. Dalam tulisan-tulisannya ia memang tidak berbicara tentang dirinya, melainkan membuat citra dari lingkungan sosial yang diamatinya.
Dan sampailah aku pada laman blognya yang sederhana lan cenderung membosankan. Namun jangan salah, aku berhasil menyelesaikan membaca keseluruhan postingannya dan berakhir dengan lecah di mataku. Tulisan-tulisannya jauh dari yang kuharapkan. Aktu tidak menemukan setting Belanda dan kota-kotanya yang romantis, melainkan sepanjang paragrafnya aku digodam dengan palu nuraninya. Aku ditamparkan dengan kebenaran. Bahwa aku telah lupa, abai dan tidak (mau) tahu dengan lingkungan dan kenyataan (sosial) bangsaku sendiri. Sedangkan beliau yang berada di ujung barat sana, malah amat memerhatikan (meski tulisannya tertahun 2008 saja, sayang sekali! We want more!!)
Ya, memang aku tidak suka politik dan intrik dalam segala bentuk dan setting keberadaannya. Aku malas berurusan dengan semua lakon kehidupan yang menjemukan dan menjengkelkan itu. Syaraf-syarafku seketika menolak dengan menghantarkan ngilu dan pusing ketika menyinggung hal-hal itu. Bukankah kehidupan itu ada bagian indahnya? Mengapa kita harus pusing, sementara mereka yang memang ‘bertugas’ untuk mengurusinya saja tidak peduli? (lantas tugasku apa?)
Tulisan beliau kemudian menyentakku. Bahwa betapa aku termasuk kaum muda yang ‘sesat dan tersesat’. Apa yang merisaukan jiwaku sepanjang ini, menemukan jawaban. Air mata itu adalah buktinya. Oh!
Apa yang diejawantahkan beliau dalam tulisannya telah menjatuhkanku dalam sumur kenyataan yang berair payau. Membuka kesadaran yang selalu kulihat namun senantiasa kunafikkan. Aku melihat kembali tulisan-tulisanku. Hanya sampah! terlalu ego sentris dan buta akan ‘dunia’.
Beberapa hari lalu aku baru saja menyelesaikan membaca kumpulan cerpen Sitor Situmorang, dan malam ini aku menangkap kesan yang sama. Gelegak emosi yang sama. Esai-esai Heri Latief dan cerpen-cerpen Sitor Situmorang memang memotret hal yang berbeda, namun muatannya sama. Mereka tidak ‘lari dari kenyataan’ dan berimajinasi sembarangan dengan mencipta dunia yang jauh dari kenyataan. Sejarah dan kondisi lingkungan sangat khas mewarnai tulisan-tulisan itu. Dan kesan yang dibekaskannya, bukan main sangat kuat! Kesimpulannya, ketimbang menjadi pengimaji tak tahu arah, lebih baik menjadi juru foto keliling dengan kamera yang sudah terintegrasi sejak orok ini!
Kegetiran bangsa ini harus kuhadapi, meski hanya bersenjatakan pena dan 26 aksara. Setidaknya aku telah melakukan sesuatu, ketimbang bermain-main membuat gula-gula kapas dengan aspartam! Bukankah setiap mula membuka notebook aku selalu membaca ini: Anugerahku, dan demikian tanggung jawabku sebagai penulis, adalah untuk memandang berbagai situasi kehidupan dengan caraku yang unik dan melaporkan kebenaran makna dan nilainya kepada pembaca agar mereka memiliki wawasan yang segar mengenai kondisi manusia”
(Elizabeth Engstrom).
Maka mulailah menulis sesuatu yang bermakna!
Bedankt om Heri Latief!!!
Kenari, 5 Jui 2011


